Rusia Bersorak Menyikapi Tekanan Trump ke Uni Eropa soal Greenland
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan
ancaman akan menaikkan tarif terhadap Uni Eropa jika Washington tidak
mendapat dukungan dalam upayanya menguasai Greenland. Ancaman tersebut
justru disambut positif oleh Rusia, yang melihatnya sebagai peluang untuk
memperlebar retakan di antara AS dan sekutu-sekutunya.
Dilansir dari Kyiv, sejumlah pejabat Rusia menyatakan
kepuasan atas tekanan Trump terhadap negara-negara Eropa, khususnya yang
tergabung dalam NATO. Mereka menilai langkah tersebut mencerminkan
melemahnya solidaritas transatlantik.
Rusia Nilai Aliansi Transatlantik Retak
Negosiator ekonomi Kremlin Kirill Dmitriev menyebut
ancaman tarif Trump sebagai tanda berakhirnya kekompakan antara Amerika Serikat
dan Eropa. Ia bahkan menyindir para pemimpin Uni Eropa, termasuk Presiden
Komisi Eropa Ursula von der Leyen, melalui media sosial X.
“Aliansi transatlantik telah berakhir,” tulis Dmitriev,
sembari memperingatkan para pemimpin Eropa agar tidak “memprovokasi” Trump.
Trump sebelumnya menyatakan akan memberlakukan tarif
sebesar 10 persen terhadap sejumlah negara sekutu NATO, termasuk Prancis,
Swedia, Denmark, Norwegia, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia. Tarif
tersebut akan diterapkan hingga Amerika Serikat mencapai kesepakatan untuk
membeli Greenland.
Ia bahkan mengancam akan mengakuisisi pulau tersebut “dengan
cara apa pun”.
Tarif Berpotensi Naik hingga 25 Persen
Trump menegaskan bahwa tarif awal akan mulai berlaku pada 1
Februari, lalu meningkat menjadi 25 persen pada 1 Juni. Ancaman ini
muncul hanya beberapa hari setelah pasukan Eropa dari Prancis, Jerman, dan
negara lainnya tiba di Greenland untuk latihan militer bersama.
Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev juga turut
merespons dengan nada provokatif. Ia menilai sikap Trump sebagai bukti semakin
dalamnya perpecahan di tubuh NATO.
“Amerika Serikat bersiap menyerang Greenland, memilih
kepentingannya sendiri dibanding solidaritas Atlantik,” ujar Medvedev. Ia
menambahkan bahwa negara-negara Eropa akan “dihukum melalui tarif” karena
ketergantungan mereka pada perlindungan AS.
Greenland dan Persaingan Strategis Arktik
Greenland, yang dihuni sekitar 56.000 penduduk,
selama ini menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat. Kepentingan
strategis wilayah tersebut semakin meningkat seiring memanasnya persaingan
geopolitik di kawasan Arktik.
Sejumlah negara Uni Eropa secara terbuka menyatakan dukungan
kepada Denmark setelah Trump kembali mengeluarkan ancamannya. Sikap ini
mencerminkan kekhawatiran Eropa terhadap dampak konflik tersebut terhadap
kohesi NATO.
Meski demikian, Trump bersikeras bahwa NATO akan menjadi
“lebih kuat dan efektif” jika Greenland berada di bawah kendali Amerika
Serikat—klaim yang secara tegas ditolak oleh para pemimpin Eropa.

Comments
Post a Comment